Ruwet? Dukunin Aja!
Cerita

Kisah Misteri: Terjebak Kereta Hantu di Kota La Paz

Kisah Misteri:
Terjebak Kereta Hantu di Kota La Paz

Stasiun kereta api di manapun, ternyata disenangi hantu. Arwah penasaran juga ternyata lebih senang bermukim di dalam tanah dan menguasai kereta api subway. Sebagai perantau di La Paz, Bolivia, Amerika Selatan, aku mengalami peristiwa yang menggetarkan batin, yang berhubungan dengan Penampakkan makhluk gaib itu. Oh Tuhan!

Biasanya pukul 24.00 setiap hari. Maka itu, pada hari Kamis 7 September 2001 itu aku buru-buru menutup toko pukul 23.45 untuk segera berlari ke terminal subway Center Blok WQ. Padahal biasanya aku menutup toko pukul 23.10. Tapi karena pembeli banyak yang cerewet malam itu, maka aku terpaksa mengulur waktu beberapa menit.

Ku pikir malam itu aku sudah terlambat naik kereta terakhir. Soalnya perjalanan menuju terminal bawah tanah cukup jauh dari tempatku usaha. Tapi untung masih ada kereta bawah tanah Red Box yang akan membawa aku ke Suburban Way, tempat tinggalku di 40 kilometer utara La Paz. Toko jaket kulit dan batik yang kubuka sejak tahun 1998 itu memang maju pesat. Banyak orang-orang Bolivia dan Chile yang jadi pelangganku. Bahkan semua pekerja taman wisata Born Beauty semua memakai jaket dari tokoku. Direktur perusahaan wisata itu mempertimbangkan kwalitas bahan kulit buatan Indonesia yang bagus. Setiap satu tahun satu kali, seragam bahan kulit itu diganti.

Pukul 24.00 tepat aku sudah berada di shelter Oguator. Keadaan terminal malam itu sangat sepi. Hanya ada dua orang yang menunggu di halte, tiga orang termasuk aku. “Kita masih bisa naik kereta api terakhir?” tanyaku. Salah satu dari dua orang itu bukan: nya menjawab, tapi malah berpaling dariku. Mensiasati orang itu tidak bersedia diajak bicara, aku bertanya pada yang satunya lagi, umurnya lebih tua, sekitar 60-an tahun. Yang satu ini ternyata menampik pula diajak bicara. Diapun berbalik badan membelakangiku.

Aku agak terpukul juga oleh sikap dua orang itu. Tapi aku berpikir positif saja, barangkali mereka tidak mengerti bahasa Inggris yang kugunakan. Memang banyak warga Bolivia yang tidak bisa menggunakan bahasa Inggris, mereka berbahasa Spanyol atau Bahasa Inca. Tapi aku mencoba menggunakan bahasa Spanyol yang sedikit kubisa. Hasilnya tetap sama, mereka menolak diajak bicara. “Aneh!” sungutku.

Pukul 24.10 kereta elektronik merk Mayua Lapaza datang. Sinyal menderu-deru berikut suara rel listrik yang terinjak beban berat berkerit memekakkan telinga. Gerbong paling belakang terhenti. Pintu segera dibuka dan kami bertiga masuk. AC kereta terasa begitu dingin dan menyengat. Sementara aroma bunga kantil menyentak hidung. Gerbong nampak kosong melompong dan hanya kami bertiga yang mengisi. Lima menit berhenti, kereta segera berangkat. 10 menit perjalanan aku melihat dua laki-aki dalam gerbong itu tertunduk. Mereka nampak mengantuk sekali dan tertidur. Sementara mataku terus melihat ke LCD, layar monitor yang menunjukkan stasiun mana saja yang dilewati. Setelah lima stasiun berhenti, LCD menunjukkan nama Quibeck Scutinko, terminal subway tempatku biasa turun. Dari situ aku naik ke atas lalu berjalan kaki ke rumahku di Lemon Park. Tapi apa yang terjadi, kereta itu tidak mau berhenti di terminal itu. Kereta terus melaju dengan kecepatan tinggi. Tinggi sekali. Ya, kurang lebih 180 km per-jam. Padahal kereta itu biasanya menggunakan kecepatan maksimum 70 km per-jam.

Setelah melewati terminal Quibeck, kereta itu tidak berhenti lagi. Aku panik dan kaget, kenapa kereta bawah tanah itu terus melaju. Didesak oleh rasa gusar dan gundah gulana, aku segera membangunkan dua orang laki-laki itu. Pikirku, aku harus minta bantuannya untuk memberhentikan kereta, Soalnya bel pitstop yang kupencet tidak mampu memberhentikan laju kereta yang begitu cepat. Pikirku, barangkali saja dua penumpang itu bisa menolong. Setelah aku berteriak pada mereka tapi mereka tidak dengar, aku segera mengguncang tubuh salah seorang di antaranya. Lak-aki yang berkemeja warga hitam kudorong-dorong agar dia bangun, tapi dia tidak bangun juga. Tidurnya sangat nyenyak dan tidak bergeming sedikitpun. Aku segera melangkah ke laki-laki yang satu lagi, menggunakan baju warna putih dengan suspender warna merah. Seperti laki-laki pertama. Laki-laki kedua ini juga tidak bergeming. Jangankan terbangun, bergerak sedikitpun, tidak.

Karena penasaran, kuberanikan diriku untuk mengangkat mukanya ke atas. Begitu terdongak dan wajahnya nampak jelas, jantungku berdetak kencang. Tubuhku menggigil dan dengkul sontak menjadi lemas. Muka laki-laki bersuspender itu ternyata bolong. Hidung, mata dan mulutnya bolong. Dia bertubuh manusia tapi bermuka tengkorak. Sementara yang satunya, tiba-tiba terbangun. Begitu aku berpaling kepadanya ternyata yang berbaju hitam itu juga sama seperti yang berbaju putih. Wajahnya juga bolong dan mirip tengkorak. Jadi dua orang penumpang segerbong denganku itu, adalah tengkorak hidup. “Hantu, hantu!” teriakku sambil menghambur, berlari ke gerbong yang lain. Kubuka dengan cepat gerbong kedua dari belakang itu. Astaghfirullahhal’azim, ternyata gerbong itu juga kosong. Gerbong ketiga ternyata kosong juga, begitu juga dengan gerbong keempat, kelima dan keenam. Semua gerbong itu kosong melompong. Gerbong ke tujuh, tempat masinis, ternyata kosong juga. Cockpit kereta listrik itu ternyata dikendalikan oleh kekuatan makhluk gaib, ada tapi tiada. Maksudnya pengendalinya ada, tapi orangnya tidak kelihatan. Sebagai pemeluk agama Islam, aku membaca-baca ayat suci yang dapat kuhafal. Aku membaca beberapa ayat yang lazim digunakan dalam darurat, saat di mana nyawa kita sedang terancam. Aku berkomat kamit di cockpit dan berkonsentrasi penuh kepada Allah, minta kuasa-Nya, bantuan-Nya dan kasih-Nya, agar aku dapat selamat dari bahaya gaib yang mengerikan itu. Tuhan ternyata mendengar doaku. Bantuan-Nya segera datang dengan memberhentikan kereta di stasiun tengah Oriodexa. Pintu segera terbuka dan aku menghambur ke eskalator. Tangga itu mengantarkan aku ke pertokoan Road Corner. Jam di tangan menunjukkan pukul 02.00 dinihari, yang artinya hampir dua jam aku terjebak di kereta misterius itu. Seorang laki-aki tegap berpakaian security mendekatiku. “Anda baru turun dari stasiun bawah tanah, apa urusan Anda di situ?” tanya Sang Security umum itu. Kuterangkan semuanya secara gamblang, bahwa aku baru saja turun dari kereta tanpa penumpang dan di gerbong paling belakangan aku berjumpa dua manusia tengkorak yang sama-sama naik dari shelter yang sama di Center Blok WQ.

Security yang bertuliskan nama Giardo Gusilvo itu terhenyak. Tapi dengan tegas dia mengatakan bahwa kereta subway terakhir sampai pukul 24.30. Tidak ada kereta lain selain kereta teakhir Queen Welladito pukul 24.30 di Road Corner.”Kereta yang Anda naiki itu adalah kereta hantu. Ya, kereta hantu. Dua laki-laki yang Anda temui adalah Wilson Bastilo dan Ramos Desausa, dua laki-laki yang bertarung dan sama-sama mati di Centra WQ bulan lalu. Dua perampok yang mati saling tembak itu menjadi hantu dan terus bergentayangan di Center WQ. Sedangkan kereta yang Anda naiki, adalah benar kereta milik perusahaan kereta listrik La Paz, tapi kereta itu dikendalikan oleh hantu. Arwah-arwah penasaran di stasiun bawah tanah yang bergentayangan setiap malam Jum’at. Termasuk, arwah dua rampok yang baru saja saling bunuh itu!” cerita Giardo Gusilvo padaku.

Besoknya, hari Jumat malam, 8 September, aku tidak mau lagi naik kereta. Begitu menutup tokoku, aku segera memesan taksi lewat telepon. Dengan taksi, aku merasa lebih aman dan nyaman, bahkan kuyakini jauh dari gangguan makhluk halus yang menyeramkan. Memang, banyak orang bilang, bahwa subway memang rawan hantu. Selain di dalam tanah, subway juga disukai roh manusia yang mati penasaran. Aura kereta bawah tanah, banyak mengundang jin terowongan, jin yang hobi mukim di dasar bumi, yang sangat gemar lalu lalang dalam kereta listrik bawah tanah. Sejak itu, aku tidak lagi berlangganan kereta dan aku berpindah berlangganan naik taksi. Kalaupun terpaksa naik kereta, aku menolak naik di malam hari. Aku hanya mau naik kereta di siang hari dan di saat jam-jam ramai penumpang. Jujur saja, aku jadi trauma dan fobia terhadap kereta, kereta apapun itu. Baik kereta api, kereta mesin maupun kereta listrik dan elektronik. Aku senantiasa berdoa, mudah-mudahan sampai kapanpun, aku tidak lagi diperlihatkan kepada hantu. Mudah-mudahan. ©️ #KyaiPamungkas

Paranormal Terbaik Indonesia

Related posts

Ijazah Kyai Pamungkas: Ilmu Pengasihan Tepuk Bantal, Silahkan Diamalkan

admin

Ijazah Kyai Pamungkas: Ilmu Pengasih As Sajdah, Silahkan Diamalkan

admin

Kisah Kyai Pamungkas: VILLA ANGKER BALI

admin

Leave a Comment

error: Content is protected !!