Ruwet? Dukunin Aja!
Kisah Kyai Pamungkas

Kisah Kyai Pamungkas: MISTIS SUNGAI MAHAKAM

CERITA MENEGANGKAN INI DITUTURKAN SECARA LANGSUNG OLEH IBU ANI SUHAINI SAAT DITUGASKAN DI PEDALAMAN KALIMANTAN TIMUR. PARANORMAL-INDONESIA.COM MENCERITAKAN ULANG DALAM BENTUK TUTUR “AKU” UNTUK ANDA AGAR LEBIH MUDAH MENGIKUTI KISAHNYA…

Sanga, sebuah daerah terpencil di Kalimantan Timur. Bagi wanita, tentu saja hal ini cukup berat untuk dijalani. Sebab, selain desa yang sepi, Sanga-Sanga juga dikenal sebagai desa angker. Lokasinya ada di pinggir sungai Mahakam yang luas dan panjang, yang juga diisi binatang buas. Di beberapa lokasi belakang desa, terdapat ribuan titik batubara dan dan gas alam yang depositnya begitu banyak.

Dengan pertimbangan jabatan, maka keputusan berat itu kuterima dan aku rela pindah selama lima tahun ke tengah hutan. Suamiku, Mas Hardi dan kedua anakku juga merelakanku pergi demi karirku sebagai pegawai Perusahaan BUMN Peritras.

“Mama kan bisa pulang dua bulan sekali ke Jakarta. Atau bisa pula kami bertiga yang datang menengok mama di Kalimantan Timur” ungkap Mas Hardi dengan tulus.

Suamiku dan anak-anak sebenarnya mau ikut pindah bersamaku ke Kalimantan. Tapi karena di sana Mas Hardi tak punya pekerjaan dan anak-anak repot dengan urusan sekolah, maka niat itu pun dibatalkan. Lain dari itu, bos tempat kerja Mas Hardi di bidang distribusi tanaman PT. Agrobisnis Kiwari, mempertahankannya agar tetap bekerja di situ. Permintaannya untuk mundur tidak direstui. Bahkan gajinya sampai dinaikkan 50 persen sebagai ikatan agar dia tidak mundur. Sementara masalah sekolah anakku, Lita dan Tia, adalah hal yang juga tak mudah dipecahkan. Di Sanga-Sanga tak ada sekolahan SMA. Kalau pindah sekolah, mau tidak mau mereka harus ke Samarinda. Sementara jarak Sanga-Sanga ke Samarinda cukup jauh, dengan kendaraan pribadi memakan waktu berjam-jam.

 

Karena terkendala berbagai persoalan tersebut, akhirnya, untuk tugas selama lima tahun di Sanga-Sanga, aku hanya sendirian. Aku berangkat pada Kamis Pahing, 6 Oktober 1999, dengan pesawat Pelita Air milik Pertamina dari bandara Halim. Aku diantar oleh Mas Hardi dan dua anakku. Kami sama-sama menguras airmata, dan kami berempat berpelukan erat sebelum aku berangkat. Kedua anakku kuciumi sepuasnya dan kupeluk mereka dengan erat. Rasanya aku mau pergi terkubur dan mati, lalu tak bertemu lagi mereka untuk selamanya.

Airmataku tumpah ruah membanjiri pipiku yang hari itu tanpa bedak. Mas Hardi yang selama ini kuat tak pernah menangis, hari itu kulihat matanya berlinang dan terisak.

Jantungku bergetar hebat saat pesawat meninggalkan bandara menjelang take off. Landasan pacu perlahan ditinggal burung raksasa itu dan dengan lemas aku berusaha melongokkan mukaku ke jendela kecil karena posisi dudukku di pinggir menghadap terminal bandara. Aku melihat Mas Hardi dan dua anakku melambaikan tangan saat pesawat berputar siap memacu kecepatan tinggi. Aku melihat mereka dengan jelas dan airmataku makin membanjir. Entah kenapa, hari itu aku begitu sedih. Jantungku terasa mau terlepas melihat mereka yang kucintai bersedih mengantarku pergi.

“Ya Allah, lindungi mereka dan pertemukan kami kembali. Tuhan, aku sangat mencintai mereka dan mereka sangat mencintaiku. Jangan pisahkan kami terlalu lama” doaku, dalam batin terdalam.

Pesawat melesat ke udara meninggalkan Jakarta menuju timur laut Pulau Jawa. Fokker 28 itu terbang dengan kecepatan 700 km-perjam di atas Bekasi. Lalu terus melesat ke Balikpapan. Sesampainya di bandara Balikpapan, jam menunjuk angka 16.00 waktu Indonesia bagian tengah. Dari kota minyak itu aku dijemput oleh sopir Direktur Expan menuju Bukit Soeharto. Mobil Taft Daihatsu gardan ganda itu meluncui cepat menuju Samarinda. Habis membeli barang kebutuhan di kota Samarinda, aku dibawa menuju Sanga-Sanga. Jarak desa kecil itu dari kota Samarinda memang cukup jauh.

Sesampainya di sebuah pelabuhan Sungai Mahakam, jam di tanganku menunjuk angka pukul 20.45 malam. Untuk menyeberang ke Sanga-Sanga, mobil yang kutumpangi harus naik ponton, semacam rakit besar pengangkut mobil dan motor. Di tengah sungai, masalah pun terjad dengan ponton itu. Karena memuat mobil terlalu banyak, maka, ponton oleng dan terbawa arus ke barat. Di luar dugaan, ponton itu dimasuki air dan tenggelam. Dua mobil lebih dulu terjungkal setelah itu disusul oleh ponton yang oleng berbalik arah dan dua mobil pun juga terjatuh. Semua penumpang teriak histeris. Dan spontan aku terus mengucap Allahhu Akbar berulang kali dengan sesekali menyebut nama suami dan kedua anakku.

Tiba-tiba seluruh tubuh ponton dimasuki air, dan aku pun ikut tenggelam. Untung aku bisa berenang dan kuraih satu koper yang bisa mengapung untuk kujadikan rakit menuju tepian. Seperti didorong oleh suatu kekuatan gaib, koper yang kupegang membawaku ke pinggir, ke sebuah rakit pemandian di seberan sana. Seorang laki-laki tua segera menolong d menaikkan tubuhku ke daratan. Tapi rasanya nafasku hanya tinggal beberapa hirupan saja. Jantungku berdebar hebat dan rasa dingin bergelayut menyelimuti sekujur tubuhku, Sementara sopir Direktur Expan, selamat, dan mengumpulkan semua barangku dan d bawanya ke kantor. Besoknya, empat mobil yang tenggelam, termasuk mobil yang kutumpangi, diangkat dengan traktor dan alat berat lain.

Malam itu aku tak dapat tidur. Aku dirawat di klinik Pertamina dengan penanganan Dokter Hasmanan asal Palembang. Dokter ahli ini juga pekerja Pertamina setempat dan kelak dia menjadi mitra kerjaku. Karena terdapat banyak air dalam lambungku, air kotor berpolusi di pinggiran Sungai Mahakam itu berhasil dikuras habis dari dalam lambungku dan akupun dinyatakan sehat.

Dokter Hasmanan menawarkan padaku untuk menelpon keluarga di Jakarta dengan telpon pribadinya. Aku menolak. Kupikir tak baik bila aku menelpon memberi tahu kecelakaan itu. Bila Mas Hardi dan dua anakku mendengar, pastilah mereka akan terguncang dan sangat cemas. Demi cintaku pada mereka, aku tidak akan memberi tahukan musibah itu. Kalaupun aku menelpon, aku akan bicara hal yang baik-baik saja dan bercanda dengan mereka. Hal itu menjadi satu-satunya hiburanku di saat batinku begitu menderita di tengah hutan dengan kasus kecelakaan yang nyaris merenggut nyawaku.

Di hari Sabtu, 8 Oktober 1999, Pak Hernardi, Direktur Expan menjamuku di rumahnya dengan makanan yang enak-enak. Maklum, untuk sementara aku masih tinggal di paviliun rumahnya, dengan sebuah kamar yang cukup indah dan ber-AC sangat sejuk. Dan pada 9 Okober 1999, Minggu, barulah aku menempati rumah dinasku di sebelah barat rumah Pak Hernadi. Rumah itu cukup besar berkamar delapan, bekas rumah kepala lapangan Euro Oiling Company. Sebuah rumah yang dibangunan pada 1890 oleh arsitek Ludwijk Van Armand dari Hilversum.

Malam 9 Oktober, sekitar pukul 19.30 rumahku diketuk. Pikirku, pengetuk pintu depan itu pastilah Pak Hernadi atau paling tidak orang suruhannya untuk mengantarkan sesuatu. Tapi begitu pintu itu kubuka, ternyata tidak ada siapa-siapa. Aku mencoba memanggil, tapi tak ada sedikit suara pun yang menyahut. Sementara itu, keadaan di luar sangat gelap. Pohon-pohon tua di sekitar rumah tampak terayun diterjang angin malam. Lampu taman terlihat redup dan mengedip-ngedip terancam putus. Rasa dingin yang datang dari sapuan angin dan uap air Sungai Mahakam menusuk persendianku. Rasanya malam itu tubuhku menjadi dingin sekali. Berbeda dengan Jakarta yang tetap panas walau malam sudah menjelang pagi.

Karena tidak ada orang, maka, aku pun kembali masuk rumah dan membenahi barang-barang yang perlu ditata. Saat aku sedang mengatur buku-buku di rak, tiba-tiba terdengar suara ketukan lagi. Kali ini aku mulai was-was dan merasa ada sesuatu yang ganjil. Terlebih saat kubukakan pintu itu, tak juga ada orang yang terlihat. Aku lalu memanggil lagi dan tak juga ada suara yang menyahut.

“Siapa yang mengetuk? Jangan bergurau ya?” Teriakku, setengah marah.

Ketika aku berusaha menutup pintu, tiba-tiba angin kencang menerpa pintu hingga terbuka kembali. Aku berusaha mendorongnya, tapi angin terlalu deras hingga aku tak mampu menutupnya. Ketika kupaksakan lagi untuk menutup, angin lebih keras lagi menyergap hingga aku terdorong ke belakang dan jatuh.

Saat aku berusaha bangkit, tiba-tiba dari arah luar muncul bayangan hitam sesosok manusia bertubuh kurus jangkung tetapi bongkok. Aku tersentak dan jantungku terasa mau lepas. Selain kaget, rasa takut tiba-tiba saja menghujam hebat di hatiku.

“Siapa kamu?“ Tanyaku, gemetar.

Sosok pria berjubah hitam itu tak bicara apa-apa. Dia hanya berdiri menatapku. Walau dalam gelap, aku dapat merasakan ketajaman tatapan matanya. Begitu tajamnya, hingga aku tak berani balas menatapnya.

Dengan sisa tenaga yang ada, aku berteriak minta tolong. Tapi suara tak keluar dari mulutku. Bahkan tenggorokan serasa tersumbat. Mungkin, semua ini terjadi karena rasa takut dan kalut yang bergumpal menjadi satu.

Dalam keadaan terdesak, aku berusaha mundur dan berniat lari dari dapur menuju rumah Hernardi. Tapi saat aku mundur pria misterius itu melangkah maju mendekat.

“Oh Tuhan, tolonglah aku, lindungi aku dari marabahaya yang menakutkan ini” Ratap batinku.

Saat aku berhenti mundur, laki-laki itu berhenti juga. Saat aku merangsek ngesot ke belakang, dia terus maju mendekat. Mungkin karena rasa takut begitu memuncak, maka aku memberanikan diri bertanya kepadanya, “Apa salahku? Kenapa aku diperlakukan seperti ini? Aku hanya mau bekerja dan mencari nafkah di sini, aku tak punya niat macam-macam di daerah ini” Berondongku perlahan dengan memelas.

Melihat aku pasrah, laki-laki berjubah itu merunduk. Habis itu dia duduk di depanku. Persis berhadapan denganku yang juga duduk. Sebelum menjawab pernyataanku, laki-laki itu terbatuk-batuk. Suara batuknya itu aneh, bukan suara batuk manusia biasa. Bunyi batuknya seperti suara burung pelatuk dan endusan buaya yang ingin kawin.

“Maaf, sebenarnya, siapa Anda ini pak?” Tanyaku lagi.

Pertanyaan itu tidak dijawabnya juga. Dia hanya diam bak manusia bisu tuli yang tak mampu berkomunikasi dengan lawan bicaranya. Saat aku mau minta ijin untuk berdiri dan mau membuatkan minum untuknya, dia lalu berjalan mundur dan menghilang.

Angin pun mereda dan pintu bisa kembali kututup. Sementara pria itu menghilang seperti spiritus disambar api. Hilang entah kemana. Yang terlihat olehku hanya kegelapan. Lengang menyelimuti semuanya.

Malam itu juga aku pergi numpang tidur di rumah Pak Hernardi. Kuceritakan apa saja yang jadi pengalamanku. Malam itu juga Pak Hernardi memanggil temannya, seorang ahli ilmu supranatural Dayak yang tinggal tidak jauh dari Tenggarong, Kutai Kertanegara. Paka Sakban, namanya.

Tengah malam, kakek berusia 70 tahun itu datang dengan mobil Daihatsu Taft warna hijau. Tokoh supramistik berambut panjang sebahu itu diperkenalkan Pak Hernardi kepadaku, sekalian menceritakan apa yang baru saja kualami.

Dari mobil, paranormal Dayak itu mengambil alat-alat ritual lalu menggelarnya di bawah pohon beringin janggut di depan rumah Pak Hernardi. Aku dan Ibu Hernardi diajak ikut serta di dalam ritual itu.

Sekitar lima belas menit upacara dimulai, angir kembali bertiup kencang. Pohon pohon besar sekitar tempat ritual berguncang hebat karena terpaannya. Bahkan, ranting dan beberapa dahan beringin pun berpatahan. Suara angin menderu hebat laksana suara pesawat yang sedang landing. Seiring tangan Pak Sakban menyapu langit, terdengar suaranya yang mampu meningkahi deruan angin. Tapi, suaranya berubah seperti harimau. Bahkan, kini, dia mengaum memecah kebisuan malam.

Tidak berapa lama kemudian, sosok pria jangkung bongkok berjubah itu kembali terlihat olehku. Ya… tiba-tiba dia datang di depan posisi duduk Pak Sakban.

Keduanya langsung berdialog dengan bahasa yang khusus. Ketika kuamati, ternyata, suara keduanya mirip dengan suara buaya dan harimau yang menggeram-geram. Pertemuan itu bagaikan pertemuan dua kucing yang ingin berkelahi. Tapi tak ada satupun di antara kami yang mengerti dari dialog keduanya.

Setelah 10 menit menampakkan diri, laki-laki misterius itu menghilang ke dalam kegelapan. Pak Sakban pun menutup ritual lalu memanggilku untuk duduk di dekatnya. Dia menceritakan bahwa lelaki bertubuh jangkung, bongkok dan berjubah itu adalah Mbah Kalyan, arwah sesepuh Dayak penguasa Sungai Mahakam. Diceritakan pula olehnya, saat rakit ponton tenggelam dan aku terhanyut, yang menyelamatkanku adalah arwah Mbah Kalyan. Jika tidak aku akan mati karena disambar buaya siluman putih yang mengintip di belakangku. Mbah Kalyan yang mengusir siluman buaya putih pemakan jantung itu karena calon korbannya adalah aku. Sebab ternyata aku adalah titisan dari kakek moyang orang Dayak Ngaju, lalu menurunkan kakek dan ayahku, yang memang aku pernah dengar kalau beliau berdarah Dayak.

Mendengar keterangan paranormal itu, sontak, aku pun jadi merinding. Beberapa saat aku merenung, jika di tubuhku tidak ada darah keturunan Dayak, maka, saat aku tercebur di Sungai Mahakam pasti sudah dimangsa oleh Siluman Buaya Putih yang dipanggil warga sebagai Si Uwak itu.

Berdasarkan perintah gaib Mbah Kalyan lewat Pak Sakban, aku pun membuat prosesi doa bersama di rumah yang baru kutempati. Ada seserahan dan persembahan berbentuk doa-doa dan beberapa ubo rambe yang harus dipersembahkan untuk seluruh penghuni Sungai Mahakam.

Memang, sejak prosesi ritual seserahan itu dibuat, aku tidak lagi diganggu oleh makhluk gaib di rumah dinasku. Bahkan, tugasku selama lima tahun di Sanga-Sanga dinilai telah berhasil gemilang dan kini aku kembali ke Jakarta di kantor pusat.

Mas Hardi, suamiku, telah meninggal karena sakit jantung dan dua anakku pun sudah sarjana. Jika tak ada halangan, sebentar lagi aku akan mantu karena anak sulungku, Lita telah dilamar oleh Syahrial Tasman, dokter gigi keturunan Dayak Ngaju juga.

Walau hatiku sedih karena mantu pertama kali tanpa Mas Hardi yang sangat kami cintai, tapi kami berbunga-bunga juga karena Syahraf berwajah persis Mas Hardi dan jadi pengganti ayah Lita yang lebih dulu dipanggil Allah. Dari Syahrial yang mirip dan bersifat sama dengan Mas Hardi, kami seakan mendapat penggani sosok baik dan bijak yang hilang, digantikan oleh sosok bijak lagi yang baru. Ah, betapa kehidupan ini penuh dengan Misteri. ©️KyaiPamungkas.

Paranormal Terbaik Indonesia

KYAI PAMUNGKAS PARANORMAL (JASA SOLUSI PROBLEM HIDUP) Diantaranya: Asmara, Rumah Tangga, Aura, Pemikat, Karir, Bersih Diri, Pagar Diri, dll.

Kami TIDAK MELAYANI hal yg bertentangan dengan hukum di Indonesia. Misalnya: Pesugihan, Bank Gaib, Uang Gaib, Pindah Janin/Aborsi, Judi/Togel, Santet/Mencelakakan Orang, dll. (Bila melayani hal di atas = PALSU!)

NAMA DI KTP: Pamungkas (Boleh minta difoto/videokan KTP. Tidak bisa menunjukkan = PALSU!)

NO. TLP/WA: 0857-4646-8080 & 0812-1314-5001
(Selain 2 nomor di atas = PALSU!)

WEBSITE: dukuninaja.com
(Selain web di atas = PALSU!)

NAMA DI REKENING/WESTERN UNION: Pamungkas/Niswatin/Debi
(Selain 3 nama di atas = PALSU!)

ALAMAT PRAKTEK: Jl. Raya Condet, Gg Kweni No.31, RT.01/RW.03, Balekambang, Kramat Jati, Jakarta Timur.
(Tidak buka cabang, selain alamat di atas = PALSU!)


Related posts

Kisah Kyai Pamungkas: ISTANA LELEMBUT CILANDAK

admin

Kisah Kyai Pamungkas: 5 HARI DIGONDOL GENDERUWO

admin

Kisah Kyai Pamungkas: Dendam Kesumat Mantan Kekasih

admin
error: Content is protected !!